Home / Renstra / Isu Strategis / Fokus Langkah Tindak Strategis

Fokus Langkah Tindak Strategis

Dari empat isu strategis prioritas, langkah tindak strategis difokuskan pada:

1. Peningkatan citra lembaga, terkait dengan penjaminan mutu, program pendidikan, mahasiswa dan lulusan.

2. Peningkatan budaya kerja dan budaya akademik.

3. Peningkatan kualitas Sumberdaya Manusia (Dosen dan tenaga penunjang).

4. Penyediaan kelengkapan sarana dan prasarana, serta sistem informasi.

5. Peningkatan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

6. Peningkatan jejaring kerja dan kemitraan.

 

Peningkatan Citra Lembaga

Lebih dari 250 alumnus telah dihasilkan STFI sejak berdirinya hingga saat ini. Keberhasilan ini merupakan nilai tambah tersendiri apalagi rata-rata lulusan menyelesaikan program studinya tepat waktu dan terserap di berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta. Namun demikian, jumlah kelulusan ini belumlah cukup untuk dijadikan indikator keberterimaan STFI di masyarakat luas. Daya saing tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelulusan, namun sangat tergantung pada keunggulan kompetitif terutama dalam penguasaan bidang keilmuan yang dimilikinya yang ditunjukkan oleh kualitas dan kompetensinya. Ke semua itu bersumber dari hasil binaan program pendidikan selama alumnus menekuni proses belajar mengajarnya, dan jika hal ini dapat dijaga dengan komitmen dan dedikasi yang tinggi, akan membentuk suatu brand image, yang pada gilirannya akan meningkatkan minat dan penerimaan masyarakat terhadap lulusan dan keberadaan STFI.

Konsekuensi yang dihadapi tentu saja sangat terkait dengan penataan kelembagaan internal, misalnya dengan peningkatan program penjaminan mutu dalam berbagai aspek, akuntabilitas, penguatan SDM, peningkatan sarana dan prasarana, program unggulan, hasil penelitian dan pengembangan, pengabdian kepada masyarakat dll. yang kesemuanya berdampak pada peningkatan jenjang akreditasi program studi.

 

Peningkatan Budaya Kerja dan Budaya Akademik

Masalah ini sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan disiplin dan kinerja dosen, serta tenaga penunjang pendidikan yang saat ini dijadikan komponen utama bergulirnya program reformasi birokrasi. Kinerja dapat ditingkatkan apabila mereka diberikan motivasi atau penambahan wawasan, misalnya diberikan kesempatan berperan aktif dalam kegiatan ilmiah tingkat lokal, nasional maupun global, atau pelibatan dalam kegiatan untuk meningkatkan kompetensi. Selain perbaikan sistem absensi, sistem reward dan punishment dalam upaya peningkatan budaya kerja, bisa mulai diterapkan.

 

Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia (Dosen dan tenaga penunjang)

Isu strategis yang muncul secara global adalah rendahnya nilai Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (Human Development Index) di penghujung tahun 2011, dimana Indonesia hanya menduduki rangking 124. Hal ini dimungkinkan karena lebih dari 50% penduduk Indonesia saat ini hanya berpendidikan sekolah dasar. Karena itulah program pendidikan menjadi salah satu skala prioritas yang harus ditingkatkan. Di samping itu, penguasaan bahasa asing, juga menjadi salah satu kendala komunikasi. Karena itu, dalam program ke depan tidak hanya diberlakukan bagi mahasiswa, penguasaan kemampuan berbahasa asing bagi dosen dan staf penunjang akademik, terutama bahasa Inggris, dan juga penggunaan teknologi informasi dirasakan sangat penting untuk difasilitasi. Begitu pula peningkatan budaya menulis karya ilmiah dapat dijadikan program pembinaan. Pembinaan karier dosen melalui jalur fungsional dan tenaga penunjang akademik juga harus digalakkan.

Khusus bagi mahasiwa, standard kompetensi kelulusan harus sudah mulai dipikirkan dalam rangka peningkatan kualitas program pendidikan dengan mengevaluasi kurikulum dan tata cara penilaian secara berkala.

 

Penyediaan Kelengkapan Sarana dan Prasarana, serta Sistem Informasi

Estimasi kebutuhan tenaga farmasis diprediksi masih akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Data dari Kementerian Kesra 2011, menunjukkan bahwa rasio Apoteker terhadap penduduk saat ini tercatat 10,5 : 100.000, dan diperkirakan baru akan mencapai rasio 12 : 100.000 pada tahun 2014.

Prediksi kenaikan ini dirasakan STFI dengan meningkatnya jumlah mahasiswa baru dalam 2 tahun terakhir ini, karena itu pemanfaatan sarana dan prasarana perlu dioptimalkan, dan perencanaan pengembangannya sudah harus dipertimbangkan. Masalah penuaan dan pemeliharaan peralatan harus juga diperhatikan. Di samping itu, pengalokasian sumber dana harus terencana dengan baik mengingat masih banyaknya bahan-bahan praktikum dan instrument yang di impor.

Pengembangan sistem informasi saat ini juga sudah menjadi suatu kebutuhan bagi bergulirnya roda organisasi.

 

Peningkatan Kegiatan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SIN) melalui pembangunan kelembagaan iptek, pemanfaatan sumberdaya lokal dan peningkatan jejaring iptek, menjadi isu strategis yang harus didukung oleh kegiatan “litbang” dan perekayasaan tepat guna, dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, di samping mengedepankan unsur pendidikan, STFI juga harus berkomitmen terhadap kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, wacana yang dilontarkan Mendikbud tentang kewajiban para calon lulusan S1, S2, S3 untuk membuat karya tulis ilmiah terpublikasi, harus segera diantisipasi. Dana-dana insentif dari pemerintah maupun swasta, dapat dijadikan peluang untuk memotivasi kegiatan ini.

 

Peningkatan Jejaring Kerja dan Kemitraan

Konsep knowledge based economy (ekonomi berbasis pengetahuan) mencuat seolah menjadi paradigma baru dalam menghadapi berbagai tantangan yang semakin dirasakan akhir-akhir ini. Penerapan konsep ini cukup beralasan karena industri dan ekonomi hanya akan kuat apabila didukung ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersumber dari para akademisi. Pertanyaan berikut kemudian muncul: Mungkinkah kita memasuki strategi mewujudkan masyarakat berbasis iptek di saat kita masih berupaya keluar dari perangkap krisis? Inilah kompleksitas masalah yang harus dihadapi bersama, dan justru karenanya pilihan memasuki dunia berpikir sistem, membangun mitra antara lembaga pendidikan, lembaga riset dan dunia industri/usaha, menjadi sangat relevan. Konsep triple helix atau ABG yang memadukan Akademisi, Bussinessmen dan Government menjadi menarik dalam membentuk jejaring kerja dan kemitraan. Konsep entrepreneur university juga layak untuk dipertimbangkan.

Tags: , ,