Ethical clearance atau kelayakan etik merupakan keterangan tertulis yang diberikan oleh Komisi Etik Penelitian untuk riset yang melibatkan makhluk hidup yang menyatakan bahwa suatu proposal riset layak dilaksanakan setelah memenuhi persyaratan tertentu.

Desain penelitian sebaiknya dibuat seramping mungkin dan telah dikonsultasikan kepada pakar desain penelitian/ ahli statistik, agar jumlah hewan yang digunakan sedikit mungkin namun validitas penelitian dapat terjamin, dimana prinsip dari pelaksanaanya yaitu harus memuat konsep 3 R, antara lain : (1) Replacement, penelitian harus dimulai dengan menggunakan hewan yang paling rendah tingkatannya seperti tikus atau mencit. (2) Reduction, jumlah hewan yang akan digunakan harus seminimal mungkin namun tetap valid secara statistik dan (3) Refinement
: perlakukan yang akan diberikan sesuai dengan azas kesejahteraan hewan (animal walfare) yang memenuhi konsep 5 Freedoms (5 F) yaitu : Freedom from hunger and thirst
(bebas dari rasa lapar dan haus), Freedom from pain
(bebas dari rasa nyeri), Freedom from distress and feeling comfort
(bebas dari stress dan rasa tidak nyaman), Freedom from injury and disease
(bebas dari luka dan penyakit) dan Freedom from to express their normal behaviour
(bebas berperilaku normal untuk hewan).

Materi tersebut merupakan bahasan utama dalam kuliah umum dalam rangka meningkatkan wawasan dan kompetensi mahasiswa terkait penelitian dibidang kesehatan khususnya bidang Farmasi dengan melibatkan makhluk hidup dalam hal ini hewan uji sebagai subjek penelitian, KK Farmakologi dibantu oleh Tim Workshop STFI mengadakan kuliah umum dengan Tema “Ethical clearance” yang diselenggarakan pada tanggal 19 Oktober 2019 bertempat di Ruang kuliah 1 & 2 Lantai 1, Gedung 2 STFI, Jl. Soekarno Hatta No. 354 (Parakan Resik) Bandung.

Sebagai pemateri atau narasumber dalam kegiatan tersebut yaitu Nur Atik, dr., M.Kes., Ph.D. Beliau merupakan Assosiate Profesor dari Departemen Biomedical Science, Fakultas Kedokteran UNPAD dan menyelasaikan studi S3 di Osaka Universiy (2014), sekarang beliau menjabat sebagai Sekretaris Komisi Etik Penelitian UNPAD sekaligus menjabat sebagai Assosiate Manajer di Center for Collaborative Research on Acute Respiratory Infections (CCR-ARI).

Peserta yang menghadari kegiatan ini yaitu mahasiswa angkatan 2016 dan konversi 2018 yang akan melaksanakan Tugas Akhir serta beberapa dosen dari KK Farmakologi, dimana dari kegiatan ini diharapkan para mahasiswa mengetahui wawasan mengenai pentingnya prinsip “Ethical clearance” dalam melakukan penelitian serta mengetahui bagaimana alur prosedur dalam mengajukan proposal penelitian untuk memperoleh Ethical Approval.

Bapak Nur Atik, menjelaskan pula mengenai tindakan yang direncanakan untuk meringankan atau menghilangkan penderitaan hewan percobaan harus dijelaskan secara rinci antara lain ketidaknyamanan (inconvenience), ketidaksenangan (discomfort), kesusahan (distress), rasa nyeri (pain) dan akhirnya kematian (death). Kelayakan penggunaan hewan coba secara etis harus dikaji dengan membandingkan penderitaan yang dialami hewan coba dengan manfaat yang akan diperoleh untuk manusia (risk benefit analysis)

Menjelang akhir kegiatan kuliah umum dilakukan sesi diskusi dan tanya jawab terkait materi yang sudah disampaikan, antusiasme para peserta kegiatan terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan serta jumlah mahasiswa yang hadir + 150 mahasiswa. Diharapkan dari kegiatan kuliah umum ini para mahasiswa lebih perhatian terhadap pentingnya Ethical clearance sebelum melaksanakan penelitian dilaksanakan dalam rangka menjamin keamanan dan kesejahteraan hewan sebagai subjek penelitian. Dan kedepan semoga STFI dapat membentuk Komisi Etik Penelitian Internal dengan fasilitas laboratorium pengujian pra klinik (hewan uji) dan klinik yang jauh lebih baik dan memadai.

Oleh : Seno Aulia Ardiansyah, M.Si., Apt